Kamis, 19 Agustus 2010

saya betulan iri sekarang,,

Pulang gawe di perempatan yg selalu gw lewatin, ketika lampu merah ada disebelah gw persis berhenti keluarga pake motor dan gw iri,,

Gw iri karena meskipun gerimis sang istri masih bisa bercanda dengan anaknya, senyum yg ga biasa dr sang istri di tengah kerudungnya yang lembab akibat hujan kecil saat itu,,

Gw ngeliat keikhlasan yang ga ada keluhan, tanpa tuntutan,, sang suami menambah hangatnya suasana dengan ikut mengajak guyon si anak,, gw iri,,

Honda bebek keluaran lama, sama sekali ga ngebuat sang istri melupakan syukur atas harta paling berharga,,

Gw iri karena Beruntungnya sang suami atas istri yang memilih hidup sederhana, beruntungnya dia karena sang istri tetap menghadirkan kecantikan tanpa takut kekurangan materi,,

Dari senyumnya gw yakin sang istri ga pernah berpikir sempit atas kehidupan yg melulu harus serba berkecukupan,, cukuplah Tuhan yang mencukupi,,

Dari cara dia bercanda terlihat syukurnya begitu luas dibanding pikiran mayoritas yang mendoktrin bahwa hidup harus serba ada,, serba indah,, serba kenyang,,

Dan dari senyumnya gw yakin prinsip sang ibu adalah bahwa keindahan hidup ga cm dinilai dari seberapa bonafit sekolah anaknya atau seberapa nyaman kasur di saat tidurnya,,

Karena syukurnya wanita sederhana ga mungkin dikalahkan dengan basahnya kerudung saat menunggu lampu hijau menyala,,

Gw iri,, Beruntungnya si suami,, tolong pa bagi-bagi tipsnya ke saya cara nyari bini yg mau di ajak susah,,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar