Minggu, 19 September 2010

ketika beliau di depan muka


Ketika Izrail menampakan wajahnya di depan saya, maka hilanglah jabatan supervisor kebanggaan saya, laporan beewekly dan monthly yg penuh analisis tidak lagi berguna, tinggal jabatan sebagai mayat dan catatan dosa2 saya.

Ketika Izrail menampakan wujudnya tepat di hadapan, gundah saya mencari harta dan istri sholehah hilang, tinggal kegundahan saya bisa menjawab pertanyaan pasukan Tuhan selanjutnya atau tidak.

Ketika Izrail menunaikan haknya, semua candaan babe2 angkat saya di ruang tamu total hilang, tak ada lagi bunyi ‘Ping’ via blackberry, kehangatan orangtua via telepon menanyakan kabar tidak akan ada lagi, gantinya tangisan tapi terlalu percaya diri saya akan ditangisi toh banyak kawan yg saya sakiti, dan seminggu-2 minggu saya akan dilupakan.

Ketika Izrail mengetuk pintu, saya tidak tau dia berwujud apa, tetap berharap semoga Tuhan menyuruh beliau menyambut saya ramah dan pelan mencabut ruh saya. Tapi semua ketololan saya di sini, perkataan menyakitkan setelah entry ini saya bagi, komentar2 ga berbobot di jejaring sosial, penyakit hati yg saya sudah sering akui akan saya ulangi, apa pantas beliau ramah ketika saya membuka pintu kamar kosan saya??

Sedangkan Muhammad yang dijamin masuk surga saja masih menangis disepertiga malam, beliau masih menangis bukan karena perut lapar tapi karena melihat org lain lapar, sedangkan saya? Sudah lebih dari setahun sepertiga malam saya tidak saya tunaikan dan baru saja tadi saya acuhkan pengemis muda di perempatan jalan. Masih bisa Izrail ramah??

Karena ketika izrail menunjukan wujudnya sebentar saya akan terlupakan, konser-konser menyenangkan yang pernah saya kunjungi total sunyi, ntah saya tersenyum nanti disana atau teriak kesakitan, karena munafiknya saya, karena 2 jam kedepan saya pun akan tertawa lagi, iman saya tidak konsisten, kadang muncul tapi mayoritas tidak pernah muncul.

Mati tidak boleh ditakuti, karena itu pasti, hidup ya cuma hidup, toh memang kenyataannya kita sedang mendekati kain kafan, mati mendadak kapanpun bisa terjadi, sedangkan hati ini terus dibolak-balik, dan saya berharap saya sambut kematian ketika hati ini sedang diposisi menghadap Sang Pemilik Kematian.

Ketika saya lupa ingatkan saya kawan, ingatkan saya akan kematian, biar saya menangis lagi, biar Tuhan menyuruh Izrail ramah mengangkat ruh saya nanti.

(inspired by DR.Khalid Abu Syadi "Berlomba Menuju Surga")

Tidak ada komentar:

Posting Komentar